Kisah Wak Sarin, Hidup Sebatang Kara dan Tinggal di Becak Dayungnya, TOLONG DISHARE...


wak-sarin

Hampir setiap malam saya duduk di sebuah warung kopi (warkop) di Jalan Sakti Lubis Kota Medan. Dan setiap hari 90% perhatian saya masih tertuju pada orang yang sama, Sarin (70). Seorang tukang becak dayung yang masih tersisa di kota ini, sedang tertidur di meja warkop dengan segelas kopi di mejanya yang belum habis..

Terbesit dihati saya untuk bertanya ketika beliau bangun, tak berapa lama kemudian percakapan kami pun bermulai ketika saya berkata.

"Habisin wak kopinya," kataku.

"Udhlaa, ga tahan lagi uwak," ujarnya sedikit meringis.

"Kenapa wak?," sambungku penuh selidik.

"Wak belum makan dari pagi, ngisap kali perutku," bilangnya.

wak-sarin2

Mendengar jawaban itu betapa sedih dan berdosanya diri ini membiarkan orangtua tersebut kelaparan. Tanpa pikir panjang saya langsung beli makanan buat wak Sarin..

Sambil makan, terjadi perbincangan panjang yg mampu mengubah hati saya menjadi Ahli Syukur.

Ternyata, sudah sejak tahun 1967 wak Sarin jadi penarik becak dayung. Sedihnya (hingga membuat air mata ini menetes), wak Sarin hidup sebatang kara dan selama ini tinggal di becak dayungnya. Yaaa benar, becak dayung adalah istana termewah baginya.

Penghasilannya sehari-hari hanya Rp.8000 dan paling banyak Rp.15000.

BANDINGKAN DENGAN YANG INI : Guru yang Gajinya Kecil Bisa Beli Laptop, Anggota Dewan Medan kok Cuma Bisa Nunggu Jatah Aja…?


 

Kenapa penghasilannya sangat sedikit? Karena tidak ada orang yang mau naik becaknya. Mereke kasihan dengan kondisi fisik wak Sarin yang sudah renta dan tidak punya tenaga lagi. Paling hanya disuruh bawa belanjaan pasar.

wak-sarin1

Benar adanya bahwa tubuh renta wak Sarin sudah tidak kuat, apalagi terkadang hampir satu harian ia menahan lapar.

Sangat disayangkan bahwa pejuang2 hidup seperti wak Sarin luput dari kacamata pemerintah.

Buat teman2 dumay saya semua, dgn rendah hati saya mohon bantulah beliau atau share postingan ini, atau kalau tidak bisa cukuplah dgn mendoakannya saja.

Terima Kasih.

Smoga SIAPA SAJA yg membantu ataupun mendoakan kebaikan buat wak Sarin, Allah membalas untuknya Surga serta Allah menggangkat derajatnya di dunia & diakhirat,

Aamiin Allahumma Aamiin
Aamiin Yaa Allah
Aamiin Yaa Rahman
Aamiin Yaa Rahim

Tulisan : Abangda Heru Andia Lubis

Tidak ada komentar