Misteri Batu Hobon, Menyatu Kembali Saat Diledakkan Belanda


misteri-batu-hobon

Diketahui, menurut legenda Batak, Misteri Batu Hobon yang terletak di Desa Arsam, Kecamatan Sianjur Mula-mula adalah batu 7 lapis sebagai tempat penyimpanan harta pusaka.

Kondisi Batu Hobon di yang menyerupai garis keliling sebagai tanda pemisah batu yang satu dengan yang di dalam, masih dalam satu kesatuan dan tidak pecah ataupun terbelah.

Diyakini, Batu Hobon adalah batu peringatan yang sakral bagi suku Batak. Dan sampai saat ini kisah Batu Hobon sangat misterius.

Teka-teki sakralnya Batu Hobon tetap tak tersingkap, tetapi indikasi bahwa batu ini sakral dan sangat terhubungkan dengan Si Boru Deang Parujar, sang Ibunda Pendasar Manusia.

Selain Batu Hobon sebagai batu tempat penyimpanan harta pusaka Si Boru Deang Parujar, juga ada kisah lain yang menyatakan bahwa Batu Hobon adalah batu pertama tempat Si Boru Deang Parujar menjejakkan kaki, begitu naik ke daratan tempaannya dari lautan Lapaslapas.

Menurut mitos Batak, Siboru Deak Parujar adalah putri keenam Debata Bataraguru yang turun dari langit meniti gulungan benangnya yang jatuh dari Banua Ginjang (kehidupan di langit) melalui Batu Siungkapungkapon, yaitu gerbang Banua Ginjang.

Sebenarnya, dia meninggalkan Banua Ginjang karena tidak suka dijodohkan Ompu Mulajadi Nabolon dengan Siraja Odap-odap, yaitu teman lahir Debata Bataraguru dari telor pertama Manuk-manuk Hulambujati.

Menggunakan benang dan berpegang pada Tungkot Tudu- Tudu Tualang (tongkat Mulajadi Nabolon), Siboru Deak Parujar yakin telah menemukan suatu tempat persembunyian di Banua Tonga (kehidupan di bumi).

Dengan alasan mencari gulungan benang, Siboru Deak Parujar meminta penciptaan benda-benda penerang di langit kepada Ompu Mulajadi Nabolon melalui Sileang-leang Mandi.

Akan tetapi, dia tidak bisa terlepas dari hubungan kepada Ompu Debata Mulajadi Nabolon. Akhirnya, dia minta bantuan melalui burung suruhan Sileang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon dan Borong-borong Sibadar agar Ompu Mulajadi Nabolon berkenan mengirimkan segenggam tanah untuk ditempah menjadi tempatnya berpijak. Siboru Deak Parujar 7 kali menempah bumi itu baru jadi, karena penempaan 1 hingga 6 selalu dirusak.

Tanah yang ditempah Siboru Deak Parujar bertambah berlipat ganda, sehari ditempah sehari dijalani, dua hari ditempah dua hari dijalani, demikian juga dengan tebalnya.

Agar Siboru Deak Parujar mau kembali ke Banua Ginjang, dikirim Ompu Mulajadi Nabolon lah Raja Padoha Naga Padoha Niaji, yaitu teman Debata Mangalabulan yang lahir dari telor ketiga, untuk merontokkan tanah itu. Begitu digoyang, hancurlah tanah ciptaan Siboru Deak Parujar.

Raja Padoha ini sama jelek dan tertariknya dengan Siraja Odap-odap, melihat kecantikan Siboru Deak Parujar. Akhirnya Siboru Deak Parujar mengambil siasat dengan makan sirih. Warna sirih Siboru Deak Parujar kemudian semakin menawan hati Raja Padoha Niaji.

Misteri Batu Hobon, Tempat Berbagai Harta Pusaka


Dia mau dimasukkan ke dalam kerangkeng besi (beangan bosi) dan tangannya diikat dengan rantai besi murni (ate-ate ni bosi) asalkan Siboru Deak Parujar mau membagi pemerah bibir itu. Namun setelah Raja Padoha masuk ke dalam kerangkeng dan tangannya diikat dengan rantai besi murni yang kemudian ditambatkan ke Tudu-tudu Tualang, Siboru Deak Parujar tidak memberikan sirih itu sama sekali.

Akhirnya mereka menikah dan melahirkan anak pertama yang langsung meninggal sebagai sanggul-sanggul ni tano na tinompana (korban silih). Akhirnya kelahiran kedua marporhas (sepasang anak berlainan jenis kelamin), yaitu seorang anak laki-laki yang diberi nama Raja Ihat Manisia dan seorang perempuan yang diberi nama Itam Manisia. Pasangan manusia pertama inilah yang menurunkan Siraja Batak sebagai generasi keenam dan menjadi leluhur genealogis orang Batak.

Umumnya orang Batak percaya kalau Siraja Batak diturunkan langsung di Pusuk Buhit dekat Pangururan (ibukota Kabupaten Samosir), anak sebuah gunung vulkanis yang disebut Gunung Toba dengan tinggi diperkirakan 15 km menjulang ke langit.

Siraja Batak kemudian membangun perkampungan di salah satu lembah gunung tersebut dengan nama Sianjur Mula-mula Sianjur Mula Tompa yang masih dapat dikunjungi sampai saat ini sebagai peninggalan perkampungan pertama.

Kemudian, legenda Batu Hobon berlanjut, tatkala Tuan Sariburaja meninggalkan semua harta yang diterimanya pada saat meninggalkan Sianjur Mula-mula dan pindah ke Ulu Darat.

Harta pusaka yang ditinggalkan Tuan Saribu Raja di Batu Hobon meliputi Buku Laklak yang diterima Guru Tatea Bulan dari Ompu Mulajadi Nabolon, seperangkat Ogung dan separangkat alat musik lain dan Ogung Emas tempaannya yang berubah wujud dari Ogung tembaga, tombak bermata dua (Hujur Somba Baho), pisau (Piso Solam Debata), penangkal magis (Pagar, sada buli-buli nabolon namarisi pagar), obat-obatan (Tawar), batu gosok emas (Pungga Haomasan).

Harta Pusaka ini diterima Tuan Saribu Raja dari ayahnya Guru Tatea Bulan, sebagai penerus kerajaan karena anak sulung, Raja Uti, telah dipilih Ompu Mulajadi Nabolon menjadi Imam Agung bagi keturunannya.

Tuan Sariburaja berpesan kepada keturunannya bahwa Batu Hobon, paningka ni Sariburaja; Naso jadi buhaon, so marsada angka pinomparna.”

Misteri Batu Hobon, Pernah Diledakkan Belanda


Karena tergiur oleh berita harta karun yang tersimpan di dalam Batu Hobon, sejarah mencatat bahwa Belanda pun sudah pernah ingin membuka batu ini pada tahun 1906. Kontroleur menyuruh dinding batu dibor untuk memasukkan dinamit ke dalamnya. Setelah mata bor dicabut, dinding batu menyatu kembali. Usaha tersebut dilakukan lebih dari sekali, tetapi hasilnya sama saja.

Keturunan Batak pun ada yang mencoba membuka tutup batu ini dengan cara mengungkit. Tetapi orang yang berniat jahat tersebut meninggal di tempat.

Dahulu, katanya, hewan seperti kerbau saja tidak mau mendekat merumput dekat batu ini, walau rumputnya hijau dan subur. Jelasnya ada usaha mengungkap misteri Batu Hobon, namun hingga saat ini tidak dapat tersingkap.

Salah seorang tokoh masyarakat Sianjur Mulamula, Alimantua Limbong (59) menjelaskan, dari cerita nenek moyang mereka bahwa benar adanya sejak dulu ada berbagai pihak yang ingin membuka Batu Hobon, namun tidak berhasil. Dia berharap semua pihak menjaga Batu Hobon sebagai peninggalan sejarah dan budaya suku Batak. (tn/berbagai sumber/ara)

Tidak ada komentar