Peristiwa Berdarah di Markas NICA Siantar dan Rahasia Bunker Belanda


kedatangan-sekutu-dan-nica

Waktu terus berjalan. 30 menit yang diberikan hampir habis. Kuncoro berencana berangkat ke markas NICA Siantar untuk memberi penjelasan kepada serdadu Belanda.

Orita menyetujuinya. Namun ia meminta syarat agar barisan rakyat mundur di sepanjang garis jalan raya umum. Tak seorang pun boleh melewati garis yang dikawal tentara Jepang. Setelah terjadi kesepakatan, Kuncoro pun berangkat.

Sementara suasana di markas NICA kian memanas. Serdadu-serdadu Belanda masih saja berlagak konyol dan over acting. Mereka mengacung-acungkan senjata ke atas, seakan-akan mereka tidak gentar menghadapi rakyat yang sudah muak dan jengkel melihat dari kejauhan. Mereka juga sengaja memancing amarah rakyat dan pejuang.

Saat itulah seorang pemuda yang tak dapat menahan kesabaran, menyeruak. Ia maju menyerbu dengan melompati pagar markas NICA. Tak lama kemudian, terdengar letusan senapan serdadu Belanda. Pemuda itu gugur seketika. Ia bernama Muda Rajagukguk.

Di saat yang bersamaan, Kuncoro yang sedang berada dalam mobil, sampai di markas NICA. Begitu turun dari mobil, Kuncoro sempat kaget. Moncong senjata serdadu Belanda diarahkan ke wajahnya. Rencananya, Kuncoro akan dijadikan korban kedua.

Beruntung aksi itu langsung dihalangi seorang opsir Jepang dari rombongan Orita.

Derap Kaki Pejuang Menggetarkan Belanda


Sejak saat itu, kesepakatan pada perundingan batal. Kuncoro tak dapat lagi menahan amarahnya. Ia pun memberi komando kepada rakyat dan pejuang untuk menggempur markas NICA. Massa yang sejak tadi siap-siap menyerbu, langsung berlarian melewati barikade yang dipasang tentara Jepang.

Derap kaki para pejuang mengguntur membelah bumi. Dengan pekikan merdeka serta semangat yang begitu hebat, rakyat menyerbu dari berbagai arah. Emosi rakyat tak terbendung, apalagi setelah wafatnya Muda Rajagukguk.

Para serdadu NICA pun ketakutan. Mereka mulai berlarian menyelamatkan diri sembari melepaskan tembakan-tembakan membabibuta. Tapi rakyat tak takut lagi. Rakyat tak takut mati. Bahkan sebaliknya, semangat mereka semakin membaja untuk menghancurkan NICA.

Saat itu, pimpinan BPI Richardo Siahaan dengan gagahnya membalikkan barikade (water mantel) yang berada di jalan masuk gerbang markas NICA.

BACA JUGA : Kisah Perjuangan Pemuda Siantar dan Jenderal Mayor Mata Satu



 

Hal itu membuat rakyat tak kesulitan lagi masuk ke lokasi. Selanjutnya, bal-bal getah ditumpuk. Botol-botol yang berisikan bensin dilemparkan ke sekitar gedung, lalu dibakar oleh berdrum-drum minyak yang kemudian ditumpahkan di lokasi. Api pun berkobar dan asap membuat udara di markas NICA menyesak.

Karena tak tahan, serdadu-serdadu Belanda keluar dari persembunyian. Saat itulah rakyat menumpahkan amarah. Enam serdadu yang keluar langsung dikeroyok hingga tewas di lokasi. Beberapa serdadu lainnya ketakutan dan menyerahkan diri ke para pemuda dan langsung dibawa ke markas BKPI untuk ditawan.

Di sela-sela penyerbuan itu, seorang pejuang lain, Ismail Situmorang, melakukan aksi gagah berani. Ia menyelinap masuk ke loteng bangunan kamar pada bangunan markas NICA. Kamar itu ditempati Dr Boes dan pimpinan NICA Groennberg. Di sana , Ismail menembak mati kedua orang itu.

Namun sayang, ia juga akhirnya tertembak oleh serdadu NICA. Ismail sempat dilarikan ke rumah sakit umum (saat ini RS Tentara). Namun nyawanya tak tertolong.

Misteri Bunker di Siantar


Di sisi lain, penyerbuan yang dilakukan rakyat kian tak terbendung. Laksana air bah, rakyat menyerbu. Ada yang melemparkan tombak, botol berisi minyak dan senjata-senjata lainnya. Orita yang berada di lokasi mencoba memberikan perlindungan kepada serdadu NICA.

Orita kemudian merapatkan barisan dari pintu keluar markas NICA hingga ke truk tentara Jepang. Dari situlah ia mengangkut serdadu NICA yang tersisa menuju Asrama Jepang (Sekarang SMA 4). Setelah itu, para serdadu dipindahkan ke Medan . Itupula yang membuat sebagian pasukan Belanda itu lolos dari serangan rakyat.

Sekira pukul 18.30 hari itu, suasana mulai sepi. Namun, rakyat tetap berjaga-jaga di markas NICA sembari memeriksa semua ruangan yang ada. Saat itulah diketahui, terdapat lubang berbentuk ruang bawah tanah atau semacam bunker di sana.

Ruangan itu dijadikan NICA sebagai gudang pengawet atau penyimpanan makanan, bahkan bisa berfungsi sebagai tempat persembunyian. Bungker itu konon katanya tembus ke pabrik es di Pematang, Siantar Selatan. Namun, kini bungker itu sudah ditutup. (Hezbi Rangkuty-Siantar)

Tidak ada komentar