Mahasiswa Semarang Perbaiki Rumah Adat Batak Berusia 200 Tahun! Pakai Dana Pribadi


[caption id="attachment_5298" align="aligncenter" width="1000"]Oloan Sirait/ NewTapanuli.comDua mahasiswa asal Semarang berfoto di rumah adat batak Toba yang sedang mereka bangun. Rumah adat yang pernah menjadi salah satu obyek wisata andalan di Tobasa ini terbakar pada Januari 2016 lalu. Oloan Sirait/ NewTapanuli.comDua mahasiswa asal Semarang berfoto di rumah adat batak Toba yang sedang mereka bangun. Rumah adat yang pernah menjadi salah satu obyek wisata andalan di Tobasa ini terbakar pada Januari 2016 lalu.[/caption]

Kedua pemuda ini adalah mahasiswa Universitas Katolik Soegipranata, Semarang, jurusan Teknik Arsitektur. Mereka datang ke Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) untuk memperbaiki rumah adat di desa itu, yang terbakar pada Januari 2016 lalu.

Kecintaan. Itulah yang menjadi alasan kedua mahasiswa yang kini duduk di semester V ini hingga mereka bersedia mengabdikan diri memperbaiki kembali rumah adat yang berusia 200 tahun lebih itu.

Kepada New Tapanuli, Gregorius dan Victor mengatakan bahwa mereka sangat tertarik akan rumah adat Batak, yang dipenuhi unsure artistic dan memiliki nilai historis yang tinggi. Dan, mendengar bahwa ada rumah adat yang terbakar di Desa Jangga Dolok, mereka pun berniat datang ke lokasi ini untuk mengaplikasikan ilmunya dengan membangun kembali satu dari lima rumah adat yang terbakar itu.

“Kebetulan kami berada di bawah naungan Yayasan Rumah Asuh yang dipimpin oleh Bapak Yori Antar. Dan, melalui yayasan ini, kami diutus kemari untuk membangun kembali rumah adat ini,” ujar Gregorius.

Dan, pada bulan September 2016 lalu, mereka datang ke Desa Jangga Dolok. “Kami sangat tertantang dengan kegiatan ini. Dimana rumah adat Batak Toba sungguh sulit merakitnya kembali,” ujar mereka, Selasa (29/11/2016).

Mereka mengatakan bahwa rencana mereka hanya sebulan di desa ini. Namun, karena membangun rumah adat ini cukup rumit, ditambah sulitnya mendapatkan bahan baku (kayu) untuk membangun, mereka pun harus bertahan hingga sekarang. Dan, sudah 3 bulan mereka di desa itu.

“Rencananya cuma satu bulan. Tapi nyatanya, tak terasa sudah tiga bulan. Kami ingin rumah adat Batak Toba ini sampai pada tahap pengatapan. Setelah itu baru kami pulang ke Semarang,” ujar Greg, sapaan akrab Gregoius.

Dikatakan, kendala yang paling berat adalah sulitnya mendapatkan kayu bulat yang besar dan lurus. Namun, sejak 3 bulan lalu berada di sini, ada beberapa kayu yang telah mereka dapatkan dibantu warga sekitar rumah adat itu. Bersama warga, mereka pergi ke hutan di desa itu dan bergotong royong menebang dan mengangkat kayu dari sana.

Dan, untuk membentuk rangka rumah adat, mereka mengutamakan keaslian rumah adat itu, yakni membangun tanpa paku. “Tak ada paku, seperti yang dilakukan nenek moyang Batak terdahulu. Kami memahat kayu dan menyatukannya satu dengan yang lain,” ujar Greg diamini Viktor. Dan, di situlah letak kesulitan membangun rumah adat Batak ini yang membuat mereka terasa tertantang.

Kemudian, untuk atap, mereka mengambil ijuk dan mengayamnya hingga terbentuk atap seperti rumah adat Batak yang asli.

Mereka juga sangat mengapresiasi kepedulian warga sekitar yang turut membantu mereka mendapatkan bahan-bahan pembangunan rumah Batak serta bergotongroyong membantu mereka memperbaiki rumah adat itu.

Darimana dana mereka membangun rumah adat itu? Greg dan Viktor mengatakan bahwa karena alasan kecintaan, ketertarikan dan karena merasa tertantang, mereka menggunakan dana sendiri dibantu Yayasan Rumah Asuh di Semarang.

Mereka berharap, pemerintah bersedia membantu mereka dengan memfasilitasi perizinan untuk dapat menebang kayu-kayu di hutan di desa itu, untuk mendapatkan kayu yang keras, bulat dan lurus, agar rumah adat tersebut bisa selesai dengan segera. Mereka mengatakan, atas berbagai keterbatasan, mereka hanya memperbaiki satu dari 5 rumah adat tersebut.

Sementara, Sargon Manurung, ahli waris rumah adat Batak Toba tersebut mengatakan bahwa rumah tersebut terbakar pada 1 Januari 2016 lalu, yang menghanguskan 5 rumah adat.

Dikatakan, rumah adat yang telah berusia 200 tahun lebih itu pernah menjadi salah satu obyek wisata budaya di Kabupaten Tobasa. “Ini memang harus dibangun kembali supaya rumah adat Batak Toba ini tidak punah begitu saja,” ujarnya. (***/ara)

Tidak ada komentar