Bergaya Seperti Pangeran Diponegoro, Pria Ini Sukses Raup Milyaran Rupiah




Sepanjang 2015-2016 Pandawa Mandiri Group dikenal sebagai perusahaan yang memberikan timbal balik 10 persen dari dana yang disetor nasabah. Seperti apa Salaman Nuryanto alias Dumeri, bos Pandawa Group menjalankan bisnisnya sehingga banyak nasabah yang percaya?

Hujan tak henti membasahi bumi Depok, Senin (20/02). Gedung besar bertuliskan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group (PMG) di Raya Meruyung No8A, Kelurahan Meruyung, Limo, Depok tak lagi wah. Garis kuning police line mengelilingi gedung warna putih biru.

Dilaporkan Radar Depok (Jawa Pos Group) Lokasi itu dulu menjadi kantor pria bernama asli Dumeri. Dia sempat menjadi buron karena melarikan dana masyarakat yang dia kumpulkan melalui KSP PMG.

Empat hingga lima tahun lalu, Nuryanto bukanlah siapa-siapa. Jalan hidup pria asal Pemalang, Jawa Tengah, itu berubah sejak mendirikan koperasi simpan pinjam bersama 21 koleganya, akhir November 2014. Saat akta pendirian koperasi itu terbit, pria kelahiran 31 Oktober 1975 ini tak lagi berjualan bubur ayam.

Dia pindah dari Perumahan Sawangan Permai di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, ke Palem Ganda Asri (PGA) Kelurahan Meruyung, Limo Depok.

Perumahan yang umumnya berwarna kekuningan tersebut merupakan kompleks perumahan milik eks terpidana perambah sepertiga hutan lindung Indonesia, Darianus Lungguk Sitorus. Perumahan ini juga tidak dijual hanya dikontrakan sang pemilik yang masih mendekam di hotel prodeo. Rumah Nuryanto bertarif Rp 40 juta per tahun.

Di kediamannya itu, secara perlahan Nuryanto membangun usaha investasi berkedok koperasi yang belakangan diketahui bodong. Kenapa bodong, si Bos menggunakan nama koperasi untuk menarik minat nasabahnya. “Sewaktu dia masuk perumahan ini, dia mengaku berprofesi tukang bubur. Lalu banyak mobil agen perjalanan masuk ke komplek, saya kira pengusaha travel,” kata Vita, tetengga Nuryanto.

Vita merasa aneh, semakin hari rumah Nuryanto semakin sering dikunjungi orang. Nuryanto juga mulai rutin mengadakan pengajian malam hari yang dihadiri ratusan hingga ribuan peserta. Hilir-mudik peserta pengajian itu, tak jarang mengusik ketenangan warga komplek. Bukan karena pengajiannya, tetapi motor dan mobil yang dikendarai tamu Nuryanto menutup akses warga perumahan.

Tak hanya itu, saking banyaknya terkadang nasabah semena-mena, maaf sampai buang air dirumahnya. Tata suara yang sangat nyaring pun membuat tetangga tak nyaman. Belakangan Vita paham, acara saban Kamis malam itu merupakan modus Nuryanto menjaring calon anggota Pandawa.

“Taruh harta di tangan, jangan taruh harta di hati. Biarlah hati sampeyan penuh dengan Allah, jadi kalau harta hilang, sampeyan bisa mencari lagi,” kata Nuryanto kepada ribuan anggota dan calon anggota Pandawa dalam video yang disimpan Vita.

Orang-orang yang menginvestasikan uang ke Pandawa menaruh hormat tinggi kepada Nuryanto. Saat bertemu Nuryanto, mayoritas dari mereka selalu menjalankan ritual mencium tangan kanan ketua Pandawa. Penampilan Nuryanto berbeda dengan orang pada umumnya. Ia selalu mengenakan baju terusan dan penutup kepala khas Pangeran Diponegoro.

Dari atas hingga bawah, setelan Nuryanto serba putih. Bahkan, dia juga kerap menggunakan tongkatnya. Kehidupan Nuryanto memang jauh dari profesi penjual bubur yang selalu dia banggakan. Menurut Vita, tetangganya itu memiliki kendaraan mewah, antara lain Alphard putih berpelat B 5 PDW, Jeep berpelat B 1 PDW dan beberapa motor balap. Nuryanto seolah ingin membangun kerajaan.

Sebagian besar rumah di sekeliling kediaman Nuryanto disewa anggota Pandawa yang memegang titel diamond atau mereka yang telah menginvestasikan uang lebih dari Rp 12 miliar hingga Rp 14 miliar di koperasinya.

Felicia, kata Vita yang merupakan salah satu pentolan warga Palem Ganda Asri penolak Pandawa menuturkan, 15 persen dari sekitar 430 rumah di kompleks itu disewa anak buah Nuryanto. (Fahmi Akbar/pj/hmi/yuz/JPG)

Tidak ada komentar