Gue Keturunan China, Indonesia Tumpah Darahku, Islam Hidup dan Mati ku, Allahu Akbar...



Netizen berdarah Tionghoa bernama Ku Kim Sin kembali membuat tulisan yang menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan. Sempat viral dengan tulisan Gue China Gue Anti PKI, kini Ku Kim Sin menceritakan pahit getirnya menjadi seorang warga minoritas.  Simak dan bagikan artikel bagus ini, demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa!

------------------------------------------

Gue Indonesia....

Lahir Dari Keluarga Keturunan China, Namun Gue Gak pernah merasa sebagai seorang China. Tapi Gue katakan Gue Orang Indonesia. Kenapa? Karena Gue bertumpah darah Indonesia bukan Di China sana. Punya Bokap Bermarga Ku. Gak lantas buat Gue merasa Gue Ini China.

Ya... Ini tulisan terbuka Gue sebagai Anak Indonesia pada seluruh Anak Bangsa Keturunan dan Pribumi. Sempat Berpuluh kali Gue mikir sebelum nulis tulisan Ini. Sebelumnya Kenalin Gue Ku Kim Sin, Gue pernah Viral Dengan tulisan Gue China Gue Anti PKI.

https://m.facebook.com/story.php…

Tapi gegara itu FB Gue Di Hack alias Mati dan Gue merasa terpenjara oleh belenggu-belenggu ketidak adilan dalam bersuara.

Dulu Gue pernah bahas Soal Bokap yang seorang APRI Angkatan Perang Republik Indonesia, Tapi kali Ini Gue ingin cerita kisah Gue. Kalo Teman anggap Semua China Itu kaya, songong dan belagu, itu salah.

Beda sama yang katanya China itu Taipan, Gue Lahir Dari Keluarga sederhana. Pasca jadi TNI Bokap banting Stir jadi Pengusaha, sempat melejit ditahun 70an namun kemudian Di tahun 90an Bokap harus gulung tikar.

Sejak itu Kondisi Ekonomi kita morat marit. Gue dan 7 saudara gue harus jalani masa-masa menjadi "tertuduh". Ya.... Tertuduh dimana setiap ada dosa tertuduhnya pasti Gue dan keluarga, karena pada saat itu baik Di lingkungan sekolah ataupun tetangga, keluarga Gue adalah yang paling Gak punya apa-apa alias Miskin.

Disekolah misalnya, ada yang kehilangan buku, penggaris atau apapun maka yang tertuduh adalah Gue. Karena stigma Gue orang miskin dan Gue China melekat saat itu. Dilingkungan tetangga apalagi, tetangga Hilang Sendok aja maka Keluarga Gue yang dihujat.

Padahal kami walau miskin selalu menjunjung nilai kejujuran dan keteguhan. Bukan ngebagusin diri juga Tapi buat apa kami mencuri sekedar satu atau dua buah Sendok. Memang jadi Minoritas saat itu tidak nyaman, apapun kejadiannya kamilah yang selalu dalam posisi salah.

Lalu apa saya benci Dengan keadaan itu? Apa saya benci Pribumi? Tidak... Sama sekali tidak. Karena diantara Pribumi yang kerap menghardik kami, maka orang Pribumi pula yang kerap menolong kami.

Teramat kerasnya hidup kami menempa Gue dan saudara-saudara Gue menjadi lebih Taft atau tangguh. Ya kadang Gue Gak makan seharian dan kemudian ada tetangga yang memberi kami nasi, Gue 8 sodara.

Dan untuk makan maka Ibu Gue harus dadar satu telor untuk 8 Anak Plus Bokap dan Nyokap. Pernah suatu waktu Nyokap Di saat Hamil harus pingsan ditangga Warung tetangga sehabis ngutang sebungkus Crackers untuk ganjel perut gegara belum makan selama 3 hari.

Alhasil Pribumi juga yang menolong Nyokap bawa dan berobat ke Puskesmas. Menjadi Miskin saat itu mengajarkan kami untuk tidak ajarkan kami dendam atau benci Tapi justru kami dipahat untuk jadi ulet, hemat dan tekun.

Namun nasib baik seakan Tetap enggan bersahabat Dengan kami. Ya... Bisnis Bokap selalu berakhir Dengan di Tipu dan Apapun jualan yang dijual Nyokap selalu basi alias kagak laku. Sampai Modal habis dan Mesti hidup Dari ngutang.

Tapi satu prinsip Bokap dan Nyokap saat itu bahwa anak-anaknya harus sukses, dan kita harus bisa sekolah. Awal Tahun 90an kakak sulung Gue nekad kursus Jahit Di Bunka, Jakarta.

Sepulangnya Dari kursus, maka kakak sulung mulai ambil alih tanggung jawab sebagai kepala Keluarga. Singkat cerita Gue pun dibiayai sekolah bukan oleh Bokap Nyokap Tapi oleh kakak tertua Gue. Sampai Gue suskses meraih gelar sarjana Gue.

Namanya roda nasib berputar. Tanpa disangka selesai Kuliah Gue langsung diterima Di salah satu Institusi Hukum Di Indonesia. Gue bangga, Gue bahagia dan Gue merasa Gue berhasil bangkit.

Teman, Gue pernah merasa Gak enak banget hidup miskin dan selalu dianggap sebagai tersangka dalam hal apapun. Namun Dari sekian banyak yang menghina, tetap ada yang mensupport dan Itu adalah mereka Pribumi Indonesia. Karena Kebaikan milik siapa saja Baik Pribumi maupun Non Pribumi.

Namun melihat Indonesia saat Ini, Gue sedih, Gue sedih karena Indonesia seolah sedang menangis. Rakyat semakin cengeng dan pemerintah semakin Tak peduli. Gaya hidup hedon merubah nilai Bangsa yang gotong Royong menjadi Individualis.

Ayolah saudaraku, belum terlambat kita bangun Indonesia kita tercinta, belum terlambat kita bangun mimpi Bangsa kita. Cintai sesama Anak Bangsa. Buang jauh Faham Gue China atau Lo China, Karena itu lah Faham yang merusak Bangsa dan memecah belah Bangsa Ini.

Ayo kita berikrar bahwa kita adalah Anak Indonesia. Mata sipit kulit kuning adalah bagian keberagaman Bangsa. Cukuplah Suku menjadi Identitas pengingat diri, namun berpeganglah pada Bhineka Tunggal ika. Kita berbeda Tapi Tetap satu jua.

Sebagai seorang Muallaf,mencintai Agama hukumnya wajib, menjalankan Agama Hukumnya Wajib, Menegakkan Agama Hukumnya Wajib. Olehnya jangan jadikan Agama alasan kita untuk saling benci.

Bukankah kita tahu Agama mengajarkan kebaikan, ada kah kita ingin Indonesia pecah dan bercerai berai? Tidak, aku tidak rela. Dari Lahir sampai mati aku akan Tetap membela negaraku dan mengabdi hanya untuk Indonesia tercinta.

Saya Keturunan sama seperti kalian, Ayo kita bangun Bangsa Indonesia bersama Saudara Pribumi kita. Jangan membabi buta dalam membela Orang sesuku yang menista Agama Islam, bagaimanapun Islam adalah Agama terbesar Di Negara Ini. Sakit yang dirasakan Umat Muslim Tak dapat diganti Dengan apapun jua selain keadilan.

Lupakan Perbedaan, satukan pandangan, tepikan kepentingan dan maju bersama Satu Indonesia. Kawan... Mungkin Usia Saya Tak Panjang lagi, Tapi disisa Umur Ini saya sangat ingin mengajak saudaraku tercinta sebangsa dan senegara untuk waspada akan Faham Pecah belah Dari luar Indonesia.

Kita diambang Kehancuran, saatnya kita bersatu demi Keutuhan NKRI tercinta. Tanah Tumpah Darah Para Kesatria. Jika Saya Indonesia Keturunan China Sangat Cintai Bangsa Indonesia, lalu kamu?

Kunci Kerukunan itu simpel, yang Minoritas Sadar dirilah kita dan jangan merasa Eksklusif. Kita Ini diwadah yang sama, yaitu Indonesia. Dan yang mayoritas terimalah kami Dengan segala Perbedaan, anggaplah kami adik yang perlu terus dibimbing, jangan generalisir kami. Karena Tak semua Keturunan China itu adalah Pengkhianat Bangsa apalagi Komunis.

Kita semua manusia bukan malaikat Tanpa dosa, Tapi Tuhan selalu beri kita kesempatan untuk jadi lebih baik dan baik lagi.

Allahu Akbar... Allahu Akbar.... Allahu Akbar...

Indonesia Harga Mati, Islam Hidup dan Mati ku

Catatan Anak Bangsa

Ku Kim Sin.

Sumber : FACEBOOK




Tidak ada komentar