Kisah Memilukan Tentang Meninggalnya Satu Keluarga di Siantar, Kerabat : Aku Tidak Kuat Melihatnya...



Tragedi memilukan terjadi di Jalan Serumpun Bawah, Kelurahan Sukadame, Siantar Utara, Selasa (6/3) sekira pukul 03.30 WIB. Togu P Marpaung (60) bersama istrinya Elfrida br Butarbutar dan putrinya Seba Hasima Rohana br Marpaung (30) tewas terpanggang di kediaman mereka.

Peristiwa kebakaran yang terjadi di belakang Stadion Siantar ini, meninggalkan kepedihan bagi keluarga korban seperti Halashon Sitohang (34) dan Daniel Sitohang (4). Keduanya adalah suami dan anak dari Seba.

Halashon dan Daniel, selamat dari amukan api karena kebetulan sedang berada di Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Mereka tidak menyangka, musibah kebakaran terjadi saat mereka bepergian. Dan mereka pun kehilangan orang-orang yang mereka kasihi.

Halashon kehilangan kedua mertua dan istri tercintanya. Demikian juga Daniel, kehilangan oppung dan ibunya.

Sewaktu mendengat kabar menyedihkan itu dari Siantar melalui sambungan telepon kerabatnya. Air mata Halashon langsung jatuh.  Anaknya yang terus merengek-rengek ingin bertemu ibu, melengkapi kegetiran dan kepedihan yang ia alami.

“Aku tidak kuat melihatnya,” ujar Widianto Sitohang (36), abang kandung Halashon yang ditemui di Siboas, Desa Sihotang Hasugian Tonga, Kecamatan Parlilitan, Selasa (7/3).

Widianto mengatakan, kedatangan Halashon bersama anaknya, hendak pamit kepada orangtuanya serta berziarah ke makam oppungnya, karena Halashon hendak merantau ke Kalimantan.

Halashon tiba  di rumah orangtuanya, Reksa Sitohang (Op Endamia) di Siboas pada Sabtu (4/3) sekira pukul 20.00 WIB.

“Dia sampai di rumah karena mobil yang ditumpangi sempat rusak di jalan,” katanya.



Menurut Widianto, malam itu juga Halashon mengutarakan niatnya hendak merantau ke Kalimantan dan sekaligus memohon doa dan restu dari kedua orangtuanya. Setelah semua selesai dirembukkan, keesokan harinya, Minggu (5/3), Halasson bersama keluarganya berziarah ke makam oppungnya.

Usai ziarah, Halashon mengatakan dirinya tidak boleh berlama-lama di kampung karena harus melengkapi semua dokumen dan persiapan lainnya untuk keberangkatannya.

“Besok (Senin, red), saya harus pulang, Bang, karena saya harus mempersiapkan semua perlengkapan,” kata Widianto menirukan perkataan adiknya saat itu.

Namun, entah kenapa anak bungsu dari 6 bersaudara ini malas pulang di hari yang telah dia rencanakan dan ia pun mengganti hari keberangkatannya.

“Perasaanku tidak enak, Bang. Bawaannya berat dan malas. Besok (Selasa) saja aku pulang,” ujar Widianto lagi menirukan perkataan adiknya saat itu.

Namun, pada Selasa (7/3) dini hari sekira pukul 05.00 WIB, keluarga ini dikejutkan oleh kabar melalui telepon selular bahwa istri dan kedua mertuanya Halashon tewas akibat kebakaran.

“Halashon sangat sedih dan terpukul mendengar berita tersebut. Dia menangis, menjerit histeris. Begitu juga Daniel (4), anak satu-satunya, selalu menangis melihat bapaknya,” ujar Widianto menceritakan kesediahan yang terjadi pada pagi itu.

“Daniel terus menangis dan selalu mengatakan ‘ayo Pak kita lihat mama’. Saya tidak kuat melihatnya,” kata Widianto dengan mata berkaca-kaca.

Widianto mengatakan, Halashon beserta ibu mereka, Nursiana br Sihotang langsung berangkat menuju Kota Siantar pada pukul 06.00 WIB.

“Tadi pagi adek dan ibu sudah berangkat ke Siantar menggunakan mobil rental dan malam ini Bapak dan keluarga yang lain akan menyusul, karena rencana akan dimakamkan di sana,” sebut widodo.




5 komentar:

  1. Smoga di trima di sisi tuhan dan keluarga yg di tinggalkan pun tabah

    BalasHapus
  2. Sungguh sulit dibayangkan jika itu terjadi pada diri kita sendiri..
    Marilah kita sejenak memberikan doa kepada Teman kita yang terkena musibah..

    BalasHapus