Profesor dari IPB Berhasil Buat Telur dengan Kandungan Omega 3 Super Tinggi



Profesor Sumiati, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), berhasil merekayasa telur dan daging unggas dengan kandungan omega 3 dan 6 yang besarnya 10 kali lipat dari telur ayam biasa. Telur ini dipercaya mampu mencegah penyakit kardiovaskular dam asma.

Wilda Wijayanti - Bogor

Prof Sumiati menjelaskan, sudah melakukan beberapa rekayasan pangan pada telur dan daging unggas. Telur hasil rekayasannya kata dia, kaya akan omega-3 dan 6.

Caranya dengan memanfaatkan minyak ikan lemuru atau sardinella longiceps sebagai sumber omega-3 sampai 5 persen dalam ransum. Sehingga mampu meningkatkan kandungan asam lemak omega-3 telur itik hingga 78 persen.

"Saat ini pangan fungsional tidak hanya mementingkan tingginya kandungan asam lemak omega-3, namun sudah bergeser pada rasio ideal antara omega-3 dan omega-6. Rasio omega-3 dan omega-6 sebesar 1:4 mampu menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 70 persen, sementara rasio sebesar 1:5 sangat baik untuk penderita asthma," jelasnya.

Dikatakannya, desain telur dengan rasio omega-3 dan omega-6 berimbang dapat dilakukan melalui rekayasa pangan menggunakan minyak ikan lemuru dan minyak sawit.

Caranya dengan pemberian pakan yang mengandung rasio omega-3 dan omega-6 sebesar 1:3 dan 1:4 dengan penambahan mineral Zinc 200 ppm sebagai antioksidan. Dengan begitu akan menghasilkan telur itik dengan rasio omega-3 dan omega-6 yang ideal.

"Kemudian ada juga telur rendah kolesterol yang dapat diturunkan melalui rekayasa pangan dengan menggunakan choline chloride, lada hitam, tepung daun katuk, tepung daun Indigofera Zollingeriana dan minyak ikan lemuru dalam pakan," beber dia.

Lebih lanjut Prof Sumiati menjelaskan, kandungan vitamin A telur dapat meningkat dengan adanya suplementasi 200 ppm Zn organik dan penggunaan minyak sawit.

Besarnya peningkatan kandungan vitamin A tersebut dibandingkan dengan ransum kontrol mencapai 19,70 persen.

"Lalu kandungan vitamin A telur puyuh dapat meningkat dengan pemberian tepung daun katuk dalam pakan," jelasnya.

Tidak hanya itu, Prof Sumiati pun mendesain telur kaya antioksidan. Selain meningkatkan kandungan beta karoten, dapat juga dilakukan dengan meningkatkan kandungan vitamin E dan kandungan Selenium melalui suplementasi vitamin E dalam pakan terutama pakan yang mengandung tinggi asam lemak omega-3 dan omega-6.

"Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi asam lemak dari proses oksidasi. Sementara Se merupakan trace mineral untuk menurunkan kerusakan membrane sel pada hewan dan manusia akibat kerusakan oksidasi," tuturnya.

Lalu yang terakhir, sambung Prof Sumiati adalah daging unggas fungsional rendah lemak dan kolesterol, tinggi vitamin A dan asam lemak omega-3.

Kadar lemak daging itik dapat diturunkan melalui pemberian minyak ikan lemuru 2 persen dan tepung daun singkong 11 persen dalam pakan.

"Daging unggas dengan rendah kolesterol dapat dilakukan melalui suplementasi tepung pucuk indigofera zollingeriana, daun kayambang dan tepung daun katuk yang mengandung tinggi beta karoten," tandasnya. (*/c)

Tidak ada komentar